Sriwijaya: Jejak Kerajaan Maritim Terbesar di Nusantara dan Warisannya di Palembang
![]() |
| Sejarah Palembang |
Sebelum menjadi kota modern seperti sekarang, Palembang adalah pusat dari salah satu kerajaan maritim terbesar di Asia Tenggara: Sriwijaya. Julukan "Bumi Sriwijaya" yang melekat pada kota ini bukan sekadar slogan pariwisata, melainkan pengakuan atas warisan sejarah yang masih membentuk identitas Palembang hingga kini.
Kejayaan Kerajaan Sriwijaya
Sriwijaya berdiri sekitar abad ke-7 dan berkembang menjadi kekuatan maritim dominan di jalur perdagangan Selat Malaka selama berabad-abad. Letaknya yang strategis di tepian Sungai Musi menjadikan Palembang kuno sebagai simpul penting perdagangan rempah dan jalur pelayaran antara India, Tiongkok, dan kepulauan Nusantara. Sriwijaya juga dikenal sebagai pusat pembelajaran agama Buddha yang disegani di Asia, menarik para biksu dan cendekiawan dari berbagai penjuru untuk belajar sebelum melanjutkan perjalanan ke India.
Situs & Artefak Peninggalan Sriwijaya
Prasasti Kedukan Bukit Salah satu prasasti tertua yang ditemukan di kawasan Palembang, dianggap sebagai salah satu bukti awal keberadaan Kerajaan Sriwijaya dan penggunaan bahasa Melayu Kuno.
Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya (Karanganyar) Situs arkeologi yang menyimpan sisa-sisa kanal, kolam, dan gundukan tanah yang diyakini sebagai bagian dari kompleks permukiman atau keagamaan era Sriwijaya.
Koleksi di Museum Negeri Sumatera Selatan & Museum SMB II Berbagai artefak dari masa Sriwijaya — mulai dari arca, prasasti, hingga peralatan sehari-hari — dipamerkan dan menjadi rujukan penting untuk memahami peradaban ini secara lebih mendalam.
Dari Sriwijaya ke Kesultanan Palembang Darussalam
Setelah masa kejayaan Sriwijaya meredup, wilayah ini kemudian berkembang menjadi Kesultanan Palembang Darussalam, yang meninggalkan warisan arsitektur dan budaya yang masih terlihat jelas — salah satunya Benteng Kuto Besak yang dibangun pada masa kesultanan sebagai pusat pertahanan dan pemerintahan.
Warisan Budaya yang Masih Hidup
Songket Palembang Kain tenun mewah dengan benang emas/perak ini adalah salah satu warisan budaya paling dikenal dari Palembang. Setiap motif songket punya makna filosofis tersendiri dan biasa dipakai dalam upacara adat serta pernikahan.
Adat Pernikahan Palembang Prosesi pernikahan adat Palembang dikenal megah dengan busana pengantin bernuansa keemasan, dipengaruhi oleh warisan kesultanan yang kental dengan simbol kemewahan dan status sosial.
Bahasa & Tutur Khas "Wong Kito" Dialek Melayu Palembang yang khas — dengan sapaan "Wong Kito" (orang kita) — masih digunakan sehari-hari dan menjadi identitas sosial yang kuat di kalangan masyarakat lokal.
Tradisi Ziarah dan Perayaan Lintas Budaya Tradisi seperti Ziarah Kubro (ziarah ke makam ulama dan auliya) serta perayaan Cap Go Meh di Pulau Kemaro menunjukkan bagaimana Palembang tumbuh sebagai kota dengan akulturasi budaya yang kuat — Melayu, Tionghoa, dan Arab berbaur dalam kehidupan sehari-hari.
Tempat Belajar Sejarah di Palembang
Bagi yang ingin mendalami sejarah Sriwijaya dan Kesultanan Palembang lebih jauh, beberapa tempat berikut layak dikunjungi:
- Museum Sultan Mahmud Badaruddin II — koleksi kesultanan dan budaya Palembang
- Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya — situs arkeologi langsung
- Museum Negeri Sumatera Selatan (Museum Balaputra Dewa) — koleksi lintas era, dari Sriwijaya hingga masa kolonial
Memahami Sriwijaya berarti memahami akar dari identitas Palembang hari ini — kota yang dari dulu sudah terbiasa menjadi persimpangan budaya, dagang, dan peradaban.
